https://scholar.ummetro.ac.id/index.php/biomedis/issue/feedJurnal Sains Biomedis 2026-07-28T21:44:54+07:00Suharno Zen[email protected]Open Journal Systems<p>The <strong data-start="4" data-end="43">Journal of Biomedical Science (JSB)</strong> is a biomedical science journal published by the Faculty of Medicine, Universitas Muhammadiyah Metro. It contains scientific articles in the form of research, literature studies, ideas, theoretical applications, and critical analytical studies in the fields of biological sciences, health, and medicine. The <strong data-start="359" data-end="398">Journal of Biomedical Science (JSB)</strong> is published twice a year, in May and November.</p>https://scholar.ummetro.ac.id/index.php/biomedis/article/view/11551Perbandingan Aktivitas Antioksidan Ekstrak Buah Bit, Cabai, dan Buah Naga Menggunakan Metode DPPH2026-07-28T12:37:40+07:00faradita dhiyan putri[email protected]Nadya Syarifatul Fajriyah [email protected]Miftahuz Zakiyah[email protected]Ilham Fathurrahman[email protected]Suharno zen[email protected]<p>Radikal bebas merupakan molekul reaktif yang memiliki elektron tidak berpasangan sehingga dapat merusak sel dengan cara mengambil elektron dari molekul lain. Radikal bebas dapat berasal dari faktor eksternal seperti sinar matahari, polusi, asap rokok, serta bahan kimia, maupun terbentuk secara alami dalam tubuh melalui proses metabolisme. Oleh karena itu, diperlukan antioksidan untuk menetralkan radikal bebas tersebut. Buah bit (<em>Beta vulgaris</em>), cabai (<em>Capsicum annuum L.</em>), dan buah naga (<em>Hylocereus polyrhizus</em>) merupakan bahan pangan nabati yang mengandung senyawa bioaktif seperti flavonoid, fenolik, vitamin C, dan pigmen alami (betalain dan antosianin) yang berpotensi sebagai antioksidan. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan aktivitas antioksidan dari ketiga ekstrak tersebut menggunakan metode DPPH (1,1-difenil-2-pikrilhidrazil). Metode ini didasarkan pada penurunan absorbansi larutan DPPH berwarna ungu akibat reaksi dengan senyawa antioksidan yang mendonorkan atom hidrogen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aktivitas antioksidan ketiga sampel berbeda-beda. Cabai memiliki aktivitas antioksidan tertinggi dengan nilai inhibisi maksimum sebesar 90,36% pada konsentrasi 60 ppm. Buah bit menunjukkan aktivitas antioksidan sedang dengan nilai maksimum sekitar 55,41% pada konsentrasi 80 ppm. Sementara itu, buah naga memiliki aktivitas antioksidan terendah dengan nilai inhibisi maksimum sekitar 30%. Perbedaan ini dipengaruhi oleh kandungan senyawa bioaktif dalam masing-masing sampel. Berdasarkan hasil tersebut, urutan kekuatan aktivitas antioksidan adalah cabai, buah bit, dan buah naga. Meskipun demikian, ketiganya tetap berpotensi sebagai sumber antioksidan alami yang bermanfaat bagi kesehatan.</p>2026-07-28T12:34:50+07:00Copyright (c) 2026 Jurnal Sains Biomedis https://scholar.ummetro.ac.id/index.php/biomedis/article/view/11575PERBANDINGAN METODE FERMENTASI DAN PEMANASAN TERHADAP PROFIL KUALITAS MINYAK KELAPA MURNI 2026-07-28T13:00:24+07:00Salsabila Dewi Larasati[email protected]Suharno Zen[email protected]Miftahuz Zakiyah[email protected]Ilham Fathurrahman[email protected]Nadya Syarifatul Fajriyah[email protected]<p>Kelapa merupakan komoditas unggulan di Indonesia dengan potensi besar untuk diubah menjadi Minyak Kelapa Murni (VCO). Produksi VCO sangat bergantung pada efektivitas pemecahan emulsi santan yang stabil berkat ikatan protein. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan efektivitas antara metode pemanasan terkendali dan metode fermentasi dengan menggunakan Saccharomyces cerevisiae dalam menghasilkan VCO berkualitas tinggi. Pendekatan yang digunakan adalah eksperimen untuk membandingkan mekanisme denaturasi protein melalui pemanasan dan aktivitas enzim proteolitik pada fermentasi. Parameter yang diukur termasuk mekanisme pemisahan fase minyak dan efisiensi hasil. Temuan menunjukkan bahwa metode pemanasan jauh lebih efektif dalam menghasilkan rendemen, yaitu sebesar 34%, sementara metode fermentasi hanya menghasilkan 2%. Perbedaan ini disebabkan oleh kecepatan destabilisasi protein dan pengurangan viskositas larutan selama pemanasan. Dalam hal fisik, kedua metode menghasilkan VCO yang memenuhi kriteria mutu, yaitu jernih, memiliki aroma kelapa yang khas, dan tidak berbau tengik. Walau kedua cara berhasil memecah emulsi santan, metode pemanasan memberikan hasil yang lebih optimal untuk produksi dalam jumlah besar dibandingkan dengan metode fermentasi.</p>2026-07-28T12:56:08+07:00Copyright (c) 2026 Jurnal Sains Biomedis https://scholar.ummetro.ac.id/index.php/biomedis/article/view/11549PERUBAHAN POLA MENGHISAP NYAMUK AKIBAT DEFORESTASI HUTAN: TINJAUAN SISTEMATIS2026-07-28T16:33:43+07:00Suharno Zen[email protected]Miftahuz Zakiyah[email protected]Nadya Syarifatul Fajriyah[email protected]Ilham Fathurrahman[email protected]<p>Deforestation is a form of environmental change that significantly impacts the ecology of disease vectors, including mosquitoes. Changes in forest cover can influence mosquito behavior, particularly biting patterns and host preferences, which have implications for increasing the risk of vector-borne diseases in humans. The purpose of this article is to systematically review research findings from the past three years related to changes in mosquito biting patterns due to deforestation. The method used was a systematic review of scientific articles published between 2022 and 2026, which discussed the relationship between deforestation, habitat change, and mosquito biting behavior. The results indicate that deforestation contributes to increased mosquito biting activity on humans, changes in peak biting times, and a shift in host preference from animals to humans. The conclusions of this review confirm that deforestation plays a significant role in changing mosquito behavior and has the potential to increase the risk of vector-borne disease transmission.</p>2026-07-28T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 Jurnal Sains Biomedis https://scholar.ummetro.ac.id/index.php/biomedis/article/view/11559Mutasi Gen rpoB Mycobacterium tuberculosis sebagai Determinan Utama Resistensi terhadap Antibiotik Rifampisin Kajian Molekuler dan Implikasi Klinisi2026-07-28T21:38:12+07:00Ilham Fathurrahman[email protected]<p>Rifampisin merupakan antibiotik lini pertama yang paling penting dalam terapi tuberkulosis. Resistensi terhadap rifampisin, yang terutama disebabkan oleh mutasi pada gen rpoB <em>Mycobacterium tuberculosis</em>, menjadi permasalahan kesehatan global yang kritis. Kajian ini bertujuan untuk mengulas secara komprehensif jenis-jenis mutasi rpoB, distribusinya, serta implikasi klinis terhadap tatalaksana tuberkulosis. Kajian literatur sistematis dilakukan menggunakan database PubMed, Scopus, dan Google Scholar meliputi artikel tahun 2000–2024. Lebih dari 96% strain M. tuberculosis resisten rifampisin membawa mutasi dalam Rifampicin Resistance Determining Region (RRDR) 81-bp pada gen rpoB. Mutasi paling umum terjadi pada kodon 531 (Ser531Leu), 526 (His526Tyr/Asp), dan 516 (Asp516Val). Mutasi-mutasi ini mengganggu afinitas pengikatan rifampisin terhadap RNA polimerase. Pemahaman profil mutasi rpoB sangat penting untuk diagnosis molekuler cepat dan strategi pengobatan berbasis bukti pada tuberkulosis resisten obat.</p>2026-07-28T21:33:49+07:00Copyright (c) 2026 Jurnal Sains Biomedis https://scholar.ummetro.ac.id/index.php/biomedis/article/view/12701INTEGRASI SURVEI BREEDING PLACE DAN PEMBUATAN PREPARAT ENTOMOLOGI NYAMUK Aedes spp. SEBAGAI INOVASI PEMBELAJARAN PARASITOLOGI BERBASIS LIVING LAB2026-07-28T21:44:54+07:00Suharno Zen[email protected]<p>Mosquito-borne diseases caused by Aedes spp., including dengue, chikungunya, and Zika, remain major public health concerns in tropical countries. This study aimed to integrate breeding place surveys and the preparation of Aedes spp. developmental-stage specimens as an innovation in Living Lab-based parasitology learning. A descriptive-exploratory study was conducted at Campus 3 of Universitas Muhammadiyah Metro using a Living Lab approach. Potential breeding habitats were surveyed, and mosquito specimens at different developmental stages (eggs, larvae, pupae, and adults) were collected, identified, and prepared as entomological specimens. The quality of the specimens was evaluated based on specimen integrity, morphological clarity, neatness, and ease of identification. The survey examined 75 water-holding containers and identified eight breeding sites positive for Aedes larvae, predominantly in aquatic plants and water storage containers. Morphological observations successfully documented key characteristics of all developmental stages. The prepared specimens demonstrated good overall quality, with clear diagnostic structures that facilitated identification and learning activities. The integration of breeding place surveys and specimen preparation provided authentic learning experiences, enhanced students’ practical skills in medical entomology, and produced sustainable learning resources. This approach can serve as an innovative model for parasitology education and vector surveillance programs.<br>Keywords: Aedes spp.; breeding place; entomological specimen; Living Lab; parasitology learning.</p>2026-07-28T21:42:42+07:00Copyright (c) 2026 Jurnal Sains Biomedis