https://scholar.ummetro.ac.id/index.php/fisioterapi/issue/feedJURNAL PROFESIONAL FISIOTERAPI2026-08-06T13:55:27+07:00Open Journal Systems<p><strong>Jurnal Profesional Fisioterapi</strong> published by Universitas Muhammadiyah Metro. This journal is an open access. This journal dedicated to the publication of research in all aspects of physiotherapy scopes. Jurnal Ilmiah Fisioterapi is published two times a year January and July.</p>https://scholar.ummetro.ac.id/index.php/fisioterapi/article/view/11498PENATALAKSANAAN FISIOTERAPI PADA PASIEN POST REKONSTRUKSI ANTERIOR CRUCIATE LIGAMENT (ACL) SINISTRA DI KLINIK BINTANG PHYSIO BANDUNG : A CASE STUDY2026-07-24T10:41:07+07:00Nur Afiyati[email protected]Hani Irfana Faiza[email protected]Muhammad Ghilang Maulud Setyawan[email protected]Ardhia Pramesti Amalia[email protected]<p><strong><em>Introduction:</em></strong><em> Anterior cruciate ligament (ACL) injury is one of the most common knee injuries and may result in instability and functional impairment, particularly in physically active individuals. In cases of ACL rupture, reconstruction surgery is performed to restore knee stability. However, during the early rehabilitation phases (phase 1–2), patients commonly experience problems such as limited range of motion and decreased muscle strength, which may hinder the process of returning to sport. <strong>Methods:</strong> This study used a case study design with a descriptive observational approach involving one post-ACL reconstruction patient at Bintang Physio Clinic Bandung. Physiotherapy interventions were administered over four sessions and included Transcutaneous Electrical Nerve Stimulation (TENS) and progressive exercise therapy. Outcome measures included range of motion assessed with a goniometer, muscle atrophy assessed by midline measurement, muscle strength assessed using Manual Muscle Testing (MMT), and functional activity assessed using the Lower Extremity Functional Scale (LEFS). <strong>Results:</strong> After four therapy sessions, the patient demonstrated improvements in range of motion from 100° to 130°, muscle strength from grade 4 to 4+, reduction in muscle atrophy, and improvement in LEFS score from 33 to 56. <strong>Conclusion:</strong> Physiotherapy intervention during the early phase after ACL reconstruction showed positive outcomes in improving knee function and functional activity, and may serve as an important foundation in preparing patients for a safe and gradual return to sport.</em></p> <p><strong><em>Keywords:</em></strong><em> ACL Injury, ACL Reconstruction, Physiotherapy, Return to Sport</em></p>2026-07-23T09:03:30+07:00Copyright (c) 2026 JURNAL PROFESIONAL FISIOTERAPIhttps://scholar.ummetro.ac.id/index.php/fisioterapi/article/view/12152MINI BAND EXERCISE DAN SINGLE LEG EXERCISE EFEKTIF DALAM MENINGKATKAN STABILITAS LUTUT PADA KARATEKA DI DOJO KTOKUSHINKAI CABANG KLAPANUNGGAL2026-07-24T10:04:12+07:00Hiliyah Putri Zahraa[email protected]Dwi Agustina[email protected]Yusuf Nasirudin[email protected]<p>Latar Belakang: Karate merupakan olahraga yang membutuhkan stabilitas ekstremitas bawah, khususnya<br>sendi lutut, dalam melakukan berbagai teknik seperti kuda-kuda, tendangan, dan perubahan arah. Stabilitas<br>lutut dipengaruhi oleh kekuatan otot, keseimbangan, dan proprioseps i. Latihan yang dapat digunakan untuk<br>meningkatkan stabilitas lutut antara lain mini band exercise dan single leg exercise. Tujuan: Penelitian ini<br>bertujuan untuk mengetahui perbandingan pengaruh mini band exercise dan single leg exercise terhadap<br>peningkatan stabilitas lutut pada karateka di Dojo Kyokushinkai Cabang Klapanunggal. Metode: Sampel<br>berjumlah 30 karateka yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling berdasarkan kriteria inklusi dan<br>eksklusi. Responden dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama berjumlah 15 orang diberikan<br>intervensi Mini Band Exercise dan kelompok kedua berjumlah 15 orang diberikan intervensi Single Leg<br>Exercise. Intervensi diberikan selama 4 minggu. Pengukuran stabilitas lutut menggunakan Single Leg Hop<br>Test dan dikalkulasi menggunakan Limb Simmetry Index (LSI). Analisis data menggunakan analisis univariat<br>dan analisis bivariat menggunakan Paired Sample T-test, dan Independent T-test. Hasil: Hasil uji hipotesis<br>menunjukkan adanya peningkatan signifikan pada kelompok mini band exercise (p=0,000) dan single leg<br>exercise (p=0,000). Namun, tidak terdapat perbedaan signifikan antara kedua kelompok (p=0,265).<br>Simpulan: Mini band exercise dan single leg exercise sama-sama efektif meningkatkan stabilitas lutut, tanpa<br>perbedaan efektivitas yang signifikan. Saran: Penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi dalam<br>pemilihan program latihan untuk meningkatkan stabilitas lutut pada karateka serta dapat digunakan sebagai<br>upaya pencegahan risiko cedera lutut pada karateka</p>2026-07-23T09:22:13+07:00Copyright (c) 2026 JURNAL PROFESIONAL FISIOTERAPIhttps://scholar.ummetro.ac.id/index.php/fisioterapi/article/view/12356HOW DOES POST-NEEDLING SORENESS DIFFER BETWEEN THE IN-OUT AND ROLLING DRY NEEDLING TECHNIQUES ?2026-07-24T10:45:06+07:00Bayu Prastowo[email protected]Nurul Intan Fadhilah[email protected]Dia Rafidya Tamimi[email protected]Syi’ar Aprilla Tanazza[email protected]<p>Introduction: Post-Needling Soreness is the most frequently reported transient adverse event following dry needling and may negatively affect patient comfort and treatment adherence. This study aimed to compare the severity of Post-Needling Soreness between the In-Out and Rolling dry needling techniques in individuals with upper trapezius Myofascial Trigger Point Syndrome (MTrPS). Method: A quasi-experimental study was conducted involving 92 participants with upper trapezius MTrPS. Post-Needling Soreness was assessed using the Visual Analog Scale (VAS) at 0.5, 24, 48, and 72 hours after the intervention. Differences between groups at each time point were analyzed using the Mann-Whitney U test, while changes over time and interaction effects were examined using mixed ANOVA. Result: The Rolling technique produced significantly greater Post-Needling Soreness than the In-Out technique at 0.5 hours post-intervention (p=0.026). However, no significant between-group differences were observed at 24, 48, or 72 hours (p>0.05). Mixed ANOVA demonstrated significant main effects of dry needling technique (p=0.029) and time (p<0.001). That interaction between technique and time was not statistically significant (p=0.456). Conclusion: Both groups exhibited a progressive reduction in Post-Needling Soreness throughout the 72 hour follow-up period. The In-Out technique resulted in lower acute Post-Needling Soreness than the Rolling technique, although both techniques demonstrated a similar recovery profile over 72 hours. These findings suggest that the In-Out technique may be preferable when minimizing immediate post-treatment discomfort is a clinical priority.</p>2026-07-23T09:54:37+07:00Copyright (c) 2026 JURNAL PROFESIONAL FISIOTERAPIhttps://scholar.ummetro.ac.id/index.php/fisioterapi/article/view/12491PENGARUH KOMBINASI THORACIC EXPANSION EXERCISE DAN MANUAL DIAPHRAGMATIC RELEASE TERHADAP PEAK EXPIRATORY FLOW PADA LANSIA DENGAN GAYA HIDUP SEDENTER2026-07-24T14:54:40+07:00Ganang Fandrian[email protected]Hapy Ardiaviandaru Siamy[email protected]Afif Fairuz Fajri[email protected]W. Azhar Na’im[email protected]Dhofirul Fadhil Dzil Ikrom Al Hazmi[email protected]Sri Yuliana[email protected]<p><strong>Pendahuluan</strong>: Penuaan dan gaya hidup sedenter berkontribusi terhadap berkurangnya mobilitas dinding dada, dan melemahnya otot respirasi. Namun, mengenai efektivitas intervensi yang dikombinasikan spesifik pada lansia dengan gaya hidup sedenteri masih terbatas. <strong>Tujuan</strong>: Penelitian ini bertujuan mengevaluasi pengaruh kombinasi <em>thoracic expansion exercise</em> (TEE) dan <em>Manual diaphragmatic release</em> (MDR) terhadap <em>peak expiratory flow</em> (PFR) pada lansia dengan gaya hidup sedentari. <strong>Metode</strong>: Eksperimen semu dengan rancangan <em>one-group pretest–posttest</em> diterapkan dalam penelitian ini. Sebanyak 45 lansia (14 laki-laki, 31 perempuan, berusia 60-69 tahun) dengan gaya hidup sedentari, direkrut menggunakan <em>purposive sampling</em>. Partisipan menyelesaikan 16 sesi intervensi kombinasi TEE dan MDR (3 sesi per minggu). PEF diukur menggunakan <em>Mini-Wright Peak Flow Meter</em> sebelum dan sesudah intervensi. Data dianalisis secara deskriptif. Normalitas dinilai menggunakan uji <em>Shapiro–Wilk</em>, dilanjutkan dengan uji <em>paired-samples t-test</em>. Ukuran efek dihitung menggunakan Cohen's (<em>d</em>), dengan signifikansi statistik ditetapkan pada p < 0,05. <strong>Hasil</strong><strong>:</strong> Empat peserta dikeluarkan karena tidak menyelesaikan protokol, sehingga 41 peserta yang dapat dilanjutkan untuk analisis akhir. Rerata PEF meningkat secara signifikan dari 341,34 ± 41,99 L/min pada kondisi awal menjadi 361,95 ± 47,23 L/min setelah intervensi, dengan peningkatan rerata sebesar 20,61 L/min (<em>p </em>< 0,001). Intervensi menunjukkan ukuran efek (<em>d</em> = 0,46). <strong>Kesimpulan:</strong> Kombinasi TEE dan MDR signifikan meningkatkan fungsi ventilasi yang ditunjukkan oleh peningkatan PEF pada lansia sedentari. Temuan menunjukkan bahwa keterbatasan mekanik pernapasan akibat penuaan yang diperberat oleh perilaku sedentari dapat dimodifikasi melalui intervensi yang menargetkan mobilitas dinding dada dan fungsi diafragma. Mengingat sifatnya yang sederhana, aman, dan non-invasif, intervensi kombinasi ini berpotensi menjadi strategi praktis untuk meningkatkan kesehatan pernapasan pada lansia. Penelitian selanjutnya dengan desain uji acak terkontrol dengan variabel mediator dan ukuran sampel yang lebih besar diperlukan untuk mengonfirmasi efektivitas temuan ini.</p>2026-07-23T10:52:32+07:00Copyright (c) 2026 JURNAL PROFESIONAL FISIOTERAPIhttps://scholar.ummetro.ac.id/index.php/fisioterapi/article/view/12628PROFIL KESEHATAN MASYARAKAT BERDASARKAN HASIL SKRINING KESEHATAN DASAR SEBAGAI UPAYA DETEKSI DINI FAKTOR RISIKO PENYAKIT TIDAK MENULAR DI MARGOREJO 2026-07-24T10:34:46+07:00Nabila Nur Afifah Fitri[email protected]Al Um Aniswatun Khasanah[email protected]Efraldo Yudistira[email protected]M Tasa Kasumbung[email protected]Muhammad Faris Nuuruddin[email protected]Bota Muhammad Akbar[email protected]<p class="isselectedend" style="margin: 0cm; text-align: justify;"><strong><span style="font-size: 10.0pt; font-family: 'Arial',sans-serif;">Pendahuluan:</span></strong><span style="font-size: 10.0pt; font-family: 'Arial',sans-serif;"> Penyakit tidak menular (PTM) merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas yang sebagian besar berkembang tanpa gejala pada tahap awal, sehingga deteksi dini melalui skrining kesehatan dasar menjadi upaya penting dalam mengidentifikasi faktor risiko di masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan profil kesehatan masyarakat berdasarkan hasil skrining kesehatan dasar sebagai upaya deteksi dini faktor risiko penyakit tidak menular di Desa Margorejo. <strong><span style="font-family: 'Arial',sans-serif;">Metode:</span></strong> Penelitian ini menggunakan desain deskriptif dengan pendekatan <em><span style="font-family: 'Arial',sans-serif;">cross-sectional</span></em> terhadap 24 responden yang mengikuti kegiatan skrining kesehatan menggunakan teknik <em><span style="font-family: 'Arial',sans-serif;">total sampling</span></em>. Pemeriksaan meliputi tekanan darah, <em><span style="font-family: 'Arial',sans-serif;">heart rate</span></em>, <em><span style="font-family: 'Arial',sans-serif;">respiratory rate</span></em>, berat badan, tinggi badan, dan indeks massa tubuh (IMT). Data dianalisis secara deskriptif menggunakan distribusi frekuensi, persentase, rerata, dan simpangan baku. <strong><span style="font-family: 'Arial',sans-serif;">Hasil:</span></strong> Rata-rata usia responden adalah 58,0±8,3 tahun. Seluruh responden dengan data tekanan darah yang lengkap mengalami hipertensi, terdiri atas hipertensi stadium 1 (43,5%) dan hipertensi stadium 2 (56,5%). Seluruh responden memiliki <em><span style="font-family: 'Arial',sans-serif;">heart rate</span></em> dalam rentang normal, sedangkan 54,5% memiliki <em><span style="font-family: 'Arial',sans-serif;">respiratory rate</span></em> di atas rentang normal. Berdasarkan IMT, 50,0% responden memiliki status gizi normal, 33,3% <em><span style="font-family: 'Arial',sans-serif;">overweight</span></em>, dan 16,7% obesitas. <strong><span style="font-family: 'Arial',sans-serif;">Simpulan:</span></strong> Skrining kesehatan dasar mampu memberikan gambaran profil kesehatan masyarakat serta mengidentifikasi faktor risiko PTM, terutama hipertensi, kelebihan berat badan, dan peningkatan <em><span style="font-family: 'Arial',sans-serif;">respiratory rate</span></em>, sehingga dapat menjadi dasar dalam penyusunan program promotif, preventif, serta tindak lanjut pelayanan kesehatan di masyarakat.</span></p>2026-07-24T10:29:10+07:00Copyright (c) 2026 JURNAL PROFESIONAL FISIOTERAPIhttps://scholar.ummetro.ac.id/index.php/fisioterapi/article/view/12162PENGARUH MULTICOMPONENT EXERCISE TERHADAP RISIKO JATUH PADA LANSIA DI PANTI SOSIAL TRESNA WERDHA BUDI MULIA 1 JAKARTA TIMUR2026-07-27T04:45:38+07:00Dewi Puspitasari[email protected]Nur Achirda[email protected]Dwi Agustina[email protected]<p><strong>Pendahuluan: </strong>Risiko jatuh merupakan salah satu masalah kesehatan yang paling sering terjadi pada lansia akibat penurunan fungsi muskuloskeletal, sensorik, dan kontrol postural. Kondisi tersebut dapat menyebabkan cedera, keterbatasan aktivitas, penurunan kualitas hidup, hingga peningkatan ketergantungan pada lansia. <em>Multicomponent exercise</em> merupakan intervensi fisioterapi yang mengombinasikan latihan kekuatan, keseimbangan, fleksibilitas, dan ketahanan kardiorespirasi yang diketahui efektif dalam meningkatkan kemampuan fungsional lansia. <strong>Metode: </strong>Penelitian ini menggunakan desain <em>quasi experimental</em>. Sampel penelitian berjumlah 32 lansia yang dibagi menjadi kelompok intervensi dan kelompok kontrol masing-masing sebanyak 16 responden. Kelompok intervensi diberikan <em>multicomponent exercise</em> selama 4 minggu dengan frekuensi 3 kali per minggu, sedangkan kelompok kontrol diberikan edukasi mengenai pencegahan risiko jatuh. Pengukuran dilakukan menggunakan <em>Berg Balance Scale</em> (BBS). <strong>Hasil: </strong>Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan keseimbangan yang signifikan pada kelompok intervensi dengan nilai <em>p-value</em> = 0,000 (p<0,05). Hasil uji <em>Mann–Whitney</em> menunjukkan terdapat perbedaan pengaruh yang signifikan antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol dengan nilai <em>p-value</em> = 0,000 (p<0,05). <strong>Simpulan: </strong><em>Multicomponent</em> exercise berpengaruh signifikan terhadap peningkatan keseimbangan dan penurunan risiko jatuh pada lansia.</p> <p><strong>Kata Kunci: </strong>lansia, risiko jatuh, multicomponent exercise, keseimbangan, <em>Berg Balance Scale</em>.</p>2026-07-26T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 JURNAL PROFESIONAL FISIOTERAPIhttps://scholar.ummetro.ac.id/index.php/fisioterapi/article/view/12757PENGARUH PELAYANAN FISIOTERAPI BERBASIS COMPASSIONATE CARE TERHADAP PSYCHOLOGICAL READINESS TO RETURN TO SPORT PADA ATLET PASCA CEDERA ANTERIOR CRUCIATE LIGAMENT (ACL)2026-08-06T13:55:27+07:00Sandi Akbar[email protected]Toto Marzuki[email protected]Azliyana Azizan[email protected]Siti Muawanah[email protected]<p><strong>Introduction:</strong> <em>Anterior Cruciate Ligament (ACL) injury often delays athletes’ return to sport. Psychological Readiness to Return to Sport is a key factor in rehabilitation success. Compassionate Care, emphasizing empathy and emotional support, may enhance psychological readiness.To examine the effect of Compassionate Care-based physiotherapy on Psychological Readiness to Return to Sport among athletes following ACL injury.</em><em> </em><em>A quasi-experimental pretest-posttest control group study involved 60 athletes with ACL injury. The intervention group received Compassionate Care-based physiotherapy, while the control group received conventional physiotherapy for 12 weeks. Psychological readiness was assessed using the ACL-Return to Sport after Injury Scale (ACL-RSI).</em><em> </em><em>The intervention group showed significantly greater improvement in ACL-RSI scores than the control group (p<0.05). Confidence and motivation increased, while fear of reinjury decreased.</em><em> </em><em>Compassionate Care-based physiotherapy positively improves athletes’ psychological readiness to return to sport after ACL injury.</em></p>2026-08-06T13:44:04+07:00Copyright (c) 2026 JURNAL PROFESIONAL FISIOTERAPI