https://scholar.ummetro.ac.id/index.php/jumatisi/issue/feedJUMATISI: Jurnal Mahasiswa Teknik Sipil2026-06-30T21:53:41+07:00Chica Oktaviajurnalmahasiswasipilummetro@gmail.comOpen Journal Systems<p><span data-sheets-value="{"1":2,"2":"Jurnal Mahasiswa Teknik Sipil (Jumatisi) Universitas Metro diterbitkan secara berkala dua kali dalam setahun pada bulan Juni dan Desember. Jumatisi merupakan kumpulan dari Tugas Akhir penelitian mahasiswa berbagai disipliln ilmu dibidang struktur, transportasi, hidrologi sumber daya air, geoteknik dan manajemen konstruksi dengan tujuan untuk dipublikasikan."}" data-sheets-userformat="{"2":513,"3":{"1":0},"12":0}"><span style="vertical-align: inherit;"><span style="vertical-align: inherit;">Jurnal Mahasiswa Teknik Sipil (Jumatisi) Universitas Metro diterbitkan secara berkala dua kali dalam peta pada bulan Juni dan Desember. </span><span style="vertical-align: inherit;">Jumatisi merupakan kumpulan dari Tugas Akhir penelitian mahasiswa berbagai disipliln ilmu dibidang struktur, transportasi, hidrologi sumber daya air, geoteknik dan manajemen konstruksi dengan tujuan untuk dipublikasikan.</span></span></span></p>https://scholar.ummetro.ac.id/index.php/jumatisi/article/view/10126VALIDATION OF FLOOD INUNDATION DISTRIBUTION IN THE BORO WATERSHED USING SENTINEL-1 IMAGERY AND 1D HEC-RAS SIMULATION AGAINST FIELD OBSERVATION DATA 2026-04-08T19:20:52+07:00Bagus Ardian Saputraputrabagusbagus1@gmail.comErni Mulyandarierni.mulyandari@lecture.utp.ac.idSuryo Handoyosuryo.handoyo@lecture.utp.ac.id<p><em>Flooding is a natural disaster that poses a serious problem in many regions of Indonesia, particularly in the Boro Watershed (DAS Boro), which experiences annual inundation in several urban villages. DAS Boro is a sub-watershed of the Bengawan Solo River, located in Jebres District, Surakarta City. Therefore, accurate flood management is necessary through disaster risk mitigation efforts. This study aims to identify flood inundation using Sentinel-1 satellite imagery visualization and hydraulic analysis through 1D modeling with HEC-RAS. The method applied is the HSS Snyder method with a two-year return period, calibrated using data from the Pepe Hilir Watershed. The analysis process began with site surveys and channel dimension measurements, along with field observations, including interviews with affected residents. Surveys were conducted at 19 points representing the inundated area. The area of DAS Boro was determined through data processing using QGIS 3.14.16, measuring 1.376 km², with a two-year flood discharge of 109.41 m³/s. The results show that flood visualization using Sentinel-1 achieved an accuracy (Recall) of 100% compared to data from BPBD and DPUPR Surakarta. Meanwhile, the HEC-RAS 1D model simulation reached only a 19.29% Recall rate, indicating that remote sensing approaches are more effective in identifying flood-affected areas.</em></p>2025-12-17T00:00:00+07:00Copyright (c) 2025 JUMATISI: Jurnal Mahasiswa Teknik Sipilhttps://scholar.ummetro.ac.id/index.php/jumatisi/article/view/9746PERSEPSI PENGGUNA JALAN TERHADAP KESELAMATAN LALU LINTAS DI LINGKUNGAN PASAR WONOREJO KAB. PASURUAN2026-04-08T19:28:00+07:00Syaihul Hidayahsyaihul87@gmail.comDian Kusumaningsih dian@yudharta.ac.id<p>Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat keselamatan lalu lintas di kawasan Pasar Wonorejo, sebuah area dengan aktivitas ekonomi dan mobilitas tinggi. Ketidakteraturan lalu lintas, minimnya fasilitas pendukung keselamatan, serta rendahnya kepatuhan pengguna jalan menjadi permasalahan utama yang memerlukan kajian mendalam. Dengan menggunakan metode kuantitatif deskriptif, data dikumpulkan melalui observasi langsung dan penyebaran kuesioner kepada pengguna jalan, pedagang, dan pengunjung pasar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa beberapa variabel seperti sarana prasarana jalan, perilaku pengendara, dan kepadatan arus lalu lintas memiliki kontribusi signifikan terhadap potensi kecelakaan. Rekomendasi strategis difokuskan pada peningkatan kesadaran berlalu lintas, pengadaan rambu yang memadai, dan pengawasan yang lebih ketat oleh pihak berwenang guna menciptakan kondisi lalu lintas yang lebih aman dan tertib di lingkungan pasar tersebut.</p>2026-04-08T19:25:20+07:00Copyright (c) 2026 JUMATISI: Jurnal Mahasiswa Teknik Sipilhttps://scholar.ummetro.ac.id/index.php/jumatisi/article/view/9780ANALISIS FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PRODUKTIVITAS TENAGA KERJA PADA PEKERJAAN STRUKTUR RENOVASI GEDUNG GPP 5 MENJADI DAPUR SEHAT ANAK BANGSA DI MALANG2026-04-08T19:34:53+07:00Muhammad Fadlillah Ainur Rohmandelmodel27@gmail.comSuciptosucipto@yudharta.ac.id<p>Produktivitas tenaga kerja menjadi indikator penting dalam keberhasilan proyek konstruksi, khususnya pada proyek renovasi yang memiliki kompleksitas tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh faktor-faktor seperti kondisi lingkungan kerja, usia pekerja, motivasi kerja, pengalaman dan keahlian kerja, serta tingkat upah terhadap produktivitas tenaga kerja pada proyek renovasi struktur Gedung GPP 5 di Malang. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif dengan strategi studi kasus. Data diperoleh dari 22 responden melalui observasi, wawancara, dan kuesioner, kemudian dianalisis menggunakan regresi linier berganda dengan SPSS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa motivasi kerja memiliki pengaruh positif signifikan, sedangkan kondisi lingkungan, usia pekerja, dan tingkat upah memiliki pengaruh negatif signifikan terhadap produktivitas. Pengalaman dan keahlian kerja tidak menunjukkan pengaruh signifikan. Temuan ini penting sebagai dasar strategi peningkatan produktivitas pada proyek konstruksi serupa.</p>2026-04-08T19:32:53+07:00Copyright (c) 2026 JUMATISI: Jurnal Mahasiswa Teknik Sipilhttps://scholar.ummetro.ac.id/index.php/jumatisi/article/view/9801EVALUASI PELAKSANAAN PERKERASAN JALAN (STUDI KASUS JALAN ALTERNATIF REMBANG-SUKOREJO STA 1+255-3+300) 2026-04-08T19:45:56+07:00Kurniawankurniawan270903@gmail.comDian Kusumaningsih dian@yudharta.ac.id<p>Pembangunan infrastruktur jalan memiliki peran penting dalam mendukung kelancaran transportasi serta pertumbuhan ekonomi masyarakat. Salah satu ruas strategis di Kabupaten Pasuruan adalah jalan alternatif Rembang–Sukorejo, yang dibangun untuk memperlancar arus lalu lintas dan mempercepat konektivitas antarwilayah. Dalam pelaksanaannya, pekerjaan konstruksi jalan tidak jarang mengalami perbedaan antara rencana teknis dan realisasi di lapangan.</p> <p>Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pelaksanaan pekerjaan perkerasan lentur pada ruas jalan alternatif Rembang–Sukorejo STA 1+255 hingga 3+300. Evaluasi dilakukan untuk menilai tingkat kesesuaian antara pelaksanaan lapangan dengan spesifikasi teknis yang telah direncanakan, serta mengidentifikasi kendala teknis dan non-teknis yang terjadi selama pelaksanaan proyek</p>2026-04-08T19:43:30+07:00Copyright (c) 2026 JUMATISI: Jurnal Mahasiswa Teknik Sipilhttps://scholar.ummetro.ac.id/index.php/jumatisi/article/view/9831ANALISIS REKAYASA NILAI (VALUE ENGINEERING) PEKERJAAN STRUKTUR KOLOM DAN BALOK PADA PROYEK RUMAH TINGGAL 2 LANTAI SUKOREJO PASURUAN2026-04-08T19:49:47+07:00Fikri Nur Syarifudinfikrihusen261@gmail.comSuciptosucipto@yudharta.ac.id<p>Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efisiensi biaya struktur kolom dan balok pada proyek pembangunan Rumah Tinggal 2 lantai Sukorejo Pasuruan melalui penerapan metode Value Engineering (VE). Latar belakang penelitian ini berangkat dari tingginya biaya komponen struktural seperti kolom K1 (30×30 cm), dan balok B1 (25×50 cm) serta B2 (20×40 cm) yang berkontribusi signifikan terhadap total anggaran proyek. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan deskriptif kuantitatif dengan fokus pada evaluasi teknis dan ekonomis melalui analisis alternatif desain. Data primer diperoleh dari dokumen Rencana Anggaran Biaya (RAB), gambar kerja, dan observasi lapangan, sedangkan data sekunder berasal dari SNI, literatur ilmiah, dan analisis harga satuan pekerjaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan VE dengan mengubah dimensi balok B1 (20×40 cm) dan B2 (15×30 cm) serta mengganti beberapa kolom K1 menjadi kolo K2 (15x30 cm), mampu menurunkan biaya sebesar Rp. 140.572.000,00 atau sekitar 67% dari anggaran awal Rp. 426.926.000,00. Analisis dengan SAP2000 memastikan bahwa perubahan desain tidak mengurangi kekuatan dan keamanan struktur. Kesimpulan penelitian ini menegaskan bahwa VE efektif dalam memberikan solusi teknis yang ekonomis tanpa mengorbankan mutu. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi dalam perencanaan struktural bangunan, khususnya untuk efisiensi biaya pada proyek dengan elemen struktur berbiaya tinggi.</p>2026-04-08T19:49:47+07:00Copyright (c) 2026 JUMATISI: Jurnal Mahasiswa Teknik Sipilhttps://scholar.ummetro.ac.id/index.php/jumatisi/article/view/10930ANALISIS FAKTOR DOMINAN PENYEBAB KETERLAMBATAN (TIME OVERRUN) PADA PROYEK PENINGKATAN JALAN AKSES MENUJU BANDARA NYIA2026-04-09T04:53:42+07:00Ian Karunia Perkasaiankarunia@ft.unmul.ac.idLidwina Putri Astaniwinaastani@ft.unmul.ac.idMochamad Gaharu Dida Devedodidadevedo@ft.unmul.ac.idChalsi Mala Sarichalsimalasari@ft.unmul.ac.id<p>Ketepatan waktu penyelesaian merupakan salah satu indikator utama keberhasilan proyek konstruksi di samping aspek biaya dan mutu. Proyek Peningkatan Jalan Akses Menuju Bandara, memiliki peran strategis sebagai infrastruktur pendukung aksesibilitas <em>New Yogyakarta International Airport</em> (NYIA). Namun, pelaksanaan proyek infrastruktur jalan raya memiliki karakteristik unik yang rentan terhadap ketidakpastian eksternal maupun internal yang berpotensi menyebabkan keterlambatan jadwal (<em>time overrun</em>). Berdasarkan observasi lapangan, proyek ini dihadapkan pada berbagai kendala kompleks mulai dari kondisi tanah dasar, curah hujan yang tinggi, hingga permasalahan sosial berupa sengketa lahan yang menghambat produktivitas pekerjaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor risiko yang mempengaruhi kinerja waktu, menganalisis tingkat risiko (<em>risk level</em>) berdasarkan frekuensi dan dampaknya, serta menentukan faktor dominan yang memerlukan prioritas penanganan. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi lapangan dan penyebaran kuesioner kepada responden ahli (<em>purposive sampling</em>) yang terdiri dari pihak kontraktor pelaksana, konsultan pengawas, dan pemilik proyek. Data yang terkumpul dianalisis menggunakan metode Matriks Risiko dengan mengalikan nilai probabilitas (<em>Likelihood</em>) dan dampak (<em>Impact</em>), yang kemudian dipetakan menggunakan Diagram Pareto untuk mendapatkan hierarki risiko utama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat tiga faktor risiko dominan yang memberikan kontribusi terbesar terhadap potensi keterlambatan waktu pada Proyek Peningkatan Jalan Sogan-Karangwuni. Faktor pertama adalah kondisi cuaca ekstrem (hujan) yang menempati peringkat risiko tertinggi dengan kategori <em>Extreme Risk</em> (Skor 25), yang berdampak signifikan pada terhentinya pekerjaan perkerasan aspal (<em>hotmix</em>). Faktor kedua adalah kendala non-teknis berupa sengketa pembebasan lahan dengan kategori <em>High Risk</em> (Skor 15). Faktor ketiga adalah kerusakan mekanis alat berat (<em>breakdown</em>) pada saat jam kerja kritis dengan kategori <em>High Risk</em> (Skor 12). Berdasarkan analisis Pareto, penanganan terhadap ketiga faktor dominan ini diproyeksikan dapat mereduksi potensi keterlambatan secara signifikan. Penelitian ini merekomendasikan strategi mitigasi berupa penerapan kerja lembur (<em>overtime</em>) untuk optimalisasi progres saat cuaca cerah, penyediaan alat berat cadangan, serta intensifikasi koordinasi sosial pada area sengketa guna memastikan proyek selesai tepat waktu.</p>2026-04-09T04:47:22+07:00Copyright (c) 2026 JUMATISI: Jurnal Mahasiswa Teknik Sipilhttps://scholar.ummetro.ac.id/index.php/jumatisi/article/view/11314ANALISIS KINERJA SISTEM DRAINASE PERKOTAAN MENGGUNAKAN PENDEKATAN HIDROLOGI, HIDROLIKA, DAN SPASIAL DI KECAMATAN MEDAN DENAI2026-06-08T14:34:52+07:00Rizky Simanjuntakrizkysmnjtntk@unimed.ac.idSagita Triswati Muntesagitamunt433@gmail.comSamuel Crescendo Siraitsamuelsirait085@gmail.comWisnu Prayogowisnuprayogo@unimd.ac.idRumila Harahaprumillaharah@unimed.ac.idDaniel Anderson Munthedanielmunthe@unimed.ac.idArissha Anggrainiarrisha@unimed.ac.id<p>Permasalahan genangan dan banjir di kawasan perkotaan umumnya disebabkan oleh kinerja sistem drainase yang belum optimal. Kecamatan Medan Denai sebagai salah satu wilayah berkembang di Kota Medan memiliki potensi permasalahan drainase akibat peningkatan curah hujan, pertumbuhan penduduk, serta perubahan tata guna lahan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kinerja sistem drainase di Kecamatan Medan Denai secara komprehensif.Metode yang digunakan meliputi analisis hidrologi untuk menentukan debit rencana berdasarkan data curah hujan, analisis debit limpasan dengan mempertimbangkan koefisien aliran dan kontribusi limbah domestik, serta analisis hidraulika untuk mengevaluasi kapasitas saluran drainase eksisting. Selain itu, dilakukan observasi lapangan untuk mengidentifikasi kondisi fisik saluran, seperti sedimentasi dan penyumbatan, serta analisis spasial untuk menentukan titik-titik genangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian saluran drainase di lokasi penelitian tidak mampu menampung debit rencana, sehingga berpotensi menimbulkan genangan. Faktor utama yang mempengaruhi kinerja drainase meliputi kapasitas saluran yang tidak memadai, sedimentasi, serta kurangnya pemeliharaan. Oleh karena itu, diperlukan upaya peningkatan kapasitas saluran, pengendalian sedimen, serta pemeliharaan rutin untuk meningkatkan kinerja sistem drainase.Penelitian ini diharapkanapat menjadi dasar dalam perencanaan dan pengelolaan sistem drainase yang lebih efektif dan berkelanjutan di Kecamatan Medan Denai.</p>2026-06-08T14:27:24+07:00Copyright (c) 2026 JUMATISI: Jurnal Mahasiswa Teknik Sipilhttps://scholar.ummetro.ac.id/index.php/jumatisi/article/view/12066 EVALUASI PELAKSANAAN DAN PENGENDALIAN MUTU RAMP GEDUNG SMA PADA PROYEK SEKOLAH X 2026-06-25T14:06:57+07:00Nayla Shafiahnaylashafiah29@gmail.comChandra Juari Tandeantandeanchandra@gmail.comJuan Fransisco Hutaurukhutaurukjuan17@gmail.comNurrul Rahimah Zeinnurrurahinahzein@mhs.unimed.ac.idSitty Maryah Tamamryhtmsitta@gmail.com<p>The construction of School X is a government program aimed at improving access to quality and inclusive education. One of the key features of this building is a ramp that serves as an accessibility feature and a vertical circulation route for all users, including people with disabilities. This study aims to evaluate the execution of work and quality control of the ramp construction at the high school building within the School X Project. The research methods used included field observations, a review of documentation, and an analysis of the construction work phases, which consisted of preparation and measurement, formwork and scaffolding installation, rebar assembly, and concrete pouring. The results of the study indicate that all construction work phases were carried out in accordance with the working drawings and applicable technical specifications. Quality control was carried out through material inspections, supervision of work execution, checks on ramp dimensions and slope, and concrete compressive strength testing. The test results showed that the concrete compressive strength reached f’c 30 MPa, which is higher than the planned quality of f’c 25 MPa (K-300); thus, the concrete quality was deemed to meet the established technical requirements. An evaluation of accessibility aspects showed that most ramp segments met the maximum slope requirement of 8.33% (1:12), but one segment had a slope of 9.78% (1:10.22), which slightly exceeded the permitted limit. Overall, the execution of the work and quality control for the ramp construction have proceeded well, resulting in a structure that meets technical standards and building accessibility requirements.</p>2026-06-25T10:30:03+07:00Copyright (c) 2026 JUMATISI: Jurnal Mahasiswa Teknik Sipilhttps://scholar.ummetro.ac.id/index.php/jumatisi/article/view/12077ANALISIS TEKNIK PELAKSANAAN SAMBUNGAN TULANGAN KOLOM PEDESTAL RANGKA ATAP MENGGUNAKAN METODE CHEMICAL ANCHOR PADA PROYEK GEDUNG AUDITORIUM2026-06-26T19:19:04+07:00Nabila Fiqij5prime2016new@gmail.comEdo Barlianedobarlian@unimed.ac.idDaniel Anderson Munthedanielmunthe@unimed.ac.idNazwa Qailanazwaqaila05@gmail.comIzmi Khairaniizmikhairani0@gmail.comM. Wisnu Widjayawisnuwidjaya2703@gmail.com<p class="isSelectedEnd">A pedestal column is a relatively short vertical structural element that functions to transfer loads from the superstructure to the foundation. In the construction project of the Progressive Auditorium Building at Muhammadiyah University of North Sumatra (UMSU), the reinforcement connection of the roof-frame pedestal columns could not be installed simultaneously with the foundation casting due to design modifications and installation errors encountered on site. Consequently, the chemical anchor method was adopted as a technical solution. This study aims to analyze the implementation technique of the reinforcement connection, including its compliance with applicable standards and the challenges encountered during field execution.</p> <p class="isSelectedEnd">A qualitative descriptive approach was employed, with data collected through direct observation, documentation, interviews with technical personnel, and literature review. The chemical anchoring product used was Hilti HIT-RE 500 V3, with D22 reinforcing bars, a drilling diameter of 25 mm, and an embedment depth of 200 mm. Data were analyzed descriptively by comparing field implementation practices with the requirements of ETAG 001 Part 5 (Bonded Anchors) and SNI 2847:2019 concerning Structural Concrete Requirements for Buildings.</p> <p class="isSelectedEnd">The evaluation of six implementation stages indicated that five stages—drilling point determination, hole cleaning, resin injection, reinforcement installation, and a 24-hour curing process—were carried out in accordance with the prescribed standards. One stage requiring improvement was the drilling process, where the drill bit encountered existing reinforcing bars embedded in the concrete at several locations. As a result, drilling had to be repeated at adjusted positions while maintaining the required reinforcement spacing and compliance with the construction drawings. The primary cause of this issue was the inability to identify the exact location of the existing reinforcement during the drilling point marking stage.</p> <p>Overall, the application of the chemical anchor method in this project produced a bond between the new reinforcement and the existing concrete that satisfied the applicable standards and construction requirements. Therefore, this method can serve as a technical reference for similar projects involving phased construction of educational institutional buildings.</p>2026-06-26T19:19:03+07:00Copyright (c) 2026 JUMATISI: Jurnal Mahasiswa Teknik Sipilhttps://scholar.ummetro.ac.id/index.php/jumatisi/article/view/12078ANALISIS PENGARUH SAFETY CULTURE TERHADAP KEPATUHAN PENGGUNAAN APD PADA PEMBANGUNAN RUMAH SAKIT XYZ2026-06-30T10:16:49+07:00Marini Grace Gultomgultommarinigrace@gmail.comErida Denyaty Tambunaneridadeniati@gmail.comFachreza Solahuddin Ritonga Fachrezasolahuddin15@gmail.comRefael Markus Samosirsamosirrefael@gmail.comEdo Barlianedobarlian@unimed.ac.idA.Daniel Anderson Munthedanielmunthe@unimed.ac.id<p class="font-claude-response-body break-words whitespace-normal">This study examined the influence of workplace safety culture on workers' compliance with personal protective equipment (PPE) usage at the XYZ Hospital construction project over a four-week observation period in April 2026. The findings demonstrate a consistent and progressive improvement in PPE compliance, which can be attributed to structured safety culture reinforcement measures implemented throughout the observation period.</p> <p class="font-claude-response-body break-words whitespace-normal">During the first week (April 6–11, 2026), average PPE compliance rates ranged between 86–88%. While this figure already reflects a relatively high baseline level of compliance, instances of non-compliance were still recorded, particularly regarding the use of gloves and safety vests. This suggests that, at the outset, workers had general awareness of PPE requirements, but adherence to all four types of equipment — helmets, safety vests, safety shoes, and gloves — was not yet fully consistent.</p> <p class="font-claude-response-body break-words whitespace-normal">A notable upward trend emerged in the second and third weeks, as compliance rates climbed to 90–96%. This improvement coincided with the implementation of daily morning safety briefings (K3 briefings), intensified safety socialization sessions, and stricter supervision by the project management team. These findings are consistent with the view that safety culture is not merely a static set of rules but an active, ongoing process shaped by managerial engagement and continuous communication. When workers receive regular reminders and perceive that management genuinely prioritizes safety, their behavioral compliance tends to increase accordingly.</p> <p class="font-claude-response-body break-words whitespace-normal">By the fourth week (April 24–30, 2026), PPE compliance reached its highest recorded levels, ranging from 94–98%, with an overall average of 91.6% across the entire observation period. This peak level of compliance, sustained toward the end of the study, suggests that the safety interventions did not produce only a short-term or reactive effect, but contributed to a gradual normalization of safe behavior among the workforce.</p> <p class="font-claude-response-body break-words whitespace-normal">A particularly noteworthy finding is that compliance improvements were sustained despite daily variation in the number of workers on site. This indicates that the behavioral changes observed were not simply a function of workforce size or composition on any given day, but were instead driven by shifts in workplace safety culture — specifically, through the combined influence of routine supervision, continuous socialization, and active managerial support. This distinction is important, as it points to culture and management as more reliable predictors of compliance than situational or demographic factors.</p> <p class="font-claude-response-body break-words whitespace-normal">These results align with the broader literature on safety climate and behavioral safety, which consistently identifies management commitment, worker involvement, and communication as key determinants of safety compliance in high-risk industries. The construction sector, with its dynamic work environments, rotating workforce, and multi-hazard conditions, is particularly dependent on strong safety culture as a foundation for consistent protective behavior.</p> <p class="font-claude-response-body break-words whitespace-normal">From a practical standpoint, this study underscores the importance of embedding safety culture reinforcement into daily project management routines, rather than treating safety briefings or socialization as one-time events. The progressive improvement observed here suggests that frequency and consistency of safety communication — combined with visible management accountability — are critical levers for sustaining and improving PPE compliance over time.</p> <p class="font-claude-response-body break-words whitespace-normal">This research is expected to serve as a practical reference for contractors and project managers, particularly those involved in the construction of healthcare facilities, where safety failures carry heightened consequences for both workers and future patients. Developing and enforcing a structured safety culture framework — encompassing regular oversight, participatory safety briefings, and sustained managerial engagement — appears to be an effective strategy for improving worker discipline and reducing PPE non-compliance in construction project environments.</p>2026-06-30T10:16:09+07:00Copyright (c) 2026 JUMATISI: Jurnal Mahasiswa Teknik Sipilhttps://scholar.ummetro.ac.id/index.php/jumatisi/article/view/12082METODE PELAKSANAAN DAN PERHITUNGAN KEBUTUHAN MATERIAL UNTUK PEKERJAAN PILECAP PADA LANTAI SEMIBASEMENT 2026-06-30T21:53:41+07:00Putri Enzelina Rajagukgukputrienjelinarajagukguk@gmail.comAgnes Ayu Sihotangagnessihotang935@gmail.comBetesda Valentina Br Gintingvalentinabetesda6@gmail.comJoel Alex Christyjoelbaruss08@gmail.comEdo Barlianedobarlian@unimed.ac.idA Daniel Anderson Muntheanielmunthe@unimed.ac.id<p data-path-to-node="3">Pile cap berperan sebagai elemen struktur bawah yang mengikat kepala tiang pancang dan meneruskan beban bangunan secara merata ke sistem pondasi. Ketepatan metode kerja serta akurasi perhitungan kebutuhan material sangat menentukan keberhasilan pelaksanaan pekerjaan ini di lapangan. Kajian ini bertujuan mengidentifikasi tahapan pelaksanaan pekerjaan pile cap dan menghitung kebutuhan material pada lantai semi basement Zona 6 Proyek Pembangunan Rumah Sakit Murni Teguh Gama City. Metode yang digunakan bersifat deskriptif kuantitatif, dengan data primer diperoleh dari pengamatan lapangan dan data sekunder dari shop drawing serta dokumentasi proyek. Hasil kajian menunjukkan bahwa pelaksanaan pile cap menerapkan metode konvensional yang meliputi pekerjaan persiapan, penggalian tanah, pembobokan kepala tiang pancang, pemasangan bekisting batako, penghamparan lantai kerja, perakitan tulangan, hingga pengecoran beton mutu K-350 dengan tulangan D19 dan D22. Pada 22 unit pile cap yang terbagi dalam 11 tipe (F2, F4, F5, F7, F8, F9, F10, F12, F16, FL12, dan FL23), total kebutuhan bekisting batako tercatat 7.639 buah dengan luas keseluruhan 509,24 m², sementara kebutuhan lantai kerja dan beton ready mix bervariasi dari 3,5 m³ (F2) hingga 387,2 m³ (F16), dan kebutuhan tulangan berkisar dari 291,16 kg (F2) hingga 3.955,23 kg (FL23). Hasil ini diharapkan menjadi acuan teknis pengadaan material pada proyek sejenis.</p>2026-06-30T21:44:30+07:00Copyright (c) 2026 JUMATISI: Jurnal Mahasiswa Teknik Sipil