ANALISIS TEKNIK PELAKSANAAN SAMBUNGAN TULANGAN KOLOM PEDESTAL RANGKA ATAP MENGGUNAKAN METODE CHEMICAL ANCHOR PADA PROYEK GEDUNG AUDITORIUM

  • Nabila Fiqi Universitas Negeri Medan
  • Edo Barlian
  • Daniel Anderson Munthe
  • Nazwa Qaila
  • Izmi Khairani
  • M. Wisnu Widjaya
Kata Kunci: Kolom pedestal; Pembesian; Chemical anchor; Pelaksana struktur

Abstrak

Kolom pedestal merupakan elemen struktur vertikal berketinggian relatif rendah yang berfungsi menyalurkan beban dari struktur atas ke pondasi. Pada proyek pembangunan Gedung Auditorium Berkemajuan Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU), penyambungan tulangan kolom pedestal pada rangka atap tidak dapat dilaksanakan bersamaan dengan pengecoran pondasi akibat perubahan desain dan kekeliruan pemasangan di lapangan, sehingga diterapkan metode angkur kimia (chemical anchor) sebagai solusi teknis. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis teknik pelaksanaan sambungan tulangan tersebut, termasuk tingkat kesesuaiannya dengan standar yang berlaku serta hambatan yang dijumpai selama proses pengerjaan di lapangan. Pendekatan yang digunakan adalah deskriptif kualitatif, dengan teknik pengumpulan data berupa observasi langsung, dokumentasi, wawancara terhadap pelaksana teknis, dan studi literatur. Produk angkur kimia yang digunakan adalah Hilti HIT-RE 500 V3 dengan diameter tulangan D22, diameter lubang bor 25 mm, dan kedalaman tanam sebesar 200 mm. Analisis data dilakukan secara deskriptif dengan membandingkan praktik pelaksanaan di lapangan terhadap standar ETAG 001 Part 5 (Bonded Anchors) dan SNI 2847:2019 tentang Persyaratan Beton Struktural untuk Bangunan Gedung. Hasil evaluasi terhadap enam tahapan pelaksanaan menunjukkan bahwa lima tahapan, yaitu penentuan titik bor, pembersihan lubang, injeksi resin, pemasangan tulangan, dan proses curing selama 24 jam, telah berjalan sesuai dengan standar yang dipersyaratkan. Satu tahapan yang memerlukan perbaikan adalah proses pengeboran, di mana pada beberapa titik mata bor mengenai tulangan eksisting yang telah tertanam di dalam beton sehingga pengeboran harus diulang pada posisi yang disesuaikan, tanpa mengabaikan jarak antar tulangan dan ketentuan gambar kerja. Faktor utama penyebab kendala ini adalah tidak teridentifikasinya posisi tulangan eksisting sejak tahap penandaan titik bor. Secara keseluruhan, penerapan metode chemical anchor pada proyek ini menghasilkan ikatan antara tulangan baru dan beton eksisting yang memenuhi standar dan persyaratan pelaksanaan konstruksi, sehingga dapat menjadi acuan teknis bagi proyek sejenis pada bangunan institusi pendidikan yang dibangun secara bertahap.

Diterbitkan
2026-06-26